09.00 - 16.00 WIB
08562887100
batikcode@gmail.com

Batik Solo dan Yogyakarta

Friday, February 21st 2014.

Batik Solo dan YogyakartaDari kerajaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitar abad ke-17, 18, dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya, batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, oleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagangan.

Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan sidomukti dan sidoluhur.

Sedangkan, asal-usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram I, yaitu daerah Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah di Desa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga Kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh karena rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan kemudian ditiru oleh rakyat, akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.

Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu, baaik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah Timur Ponorogo, Tulung Agung, dan sebagainya. Meluasnya daerah pembatikan ini sampai ke daerah pembatikan ini sampai ke daerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan di seluruh pelosok Pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.

Perang Diponegoro melawan Belanda, mendesak pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat. Kemudian di daerah-daerah baru tersebut para keluarga dan pengikut Pangeran Diponegoro mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya, dan Madura. Sedang ke arah barat, batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon.

sumber : Batik Warisan Budaya Asli Indonesia, Aep S. Hamidin, 2010 

Comments

comments

Rp 165.000
Rp 150.000
sale
Kemeja Batik Semi Sutera Merah K632

24%

Rp 65.000 85.000
habis
Rp 85.000
habis
habis
Rp 70.000
habis
habis
Rp 110.000
habis